Meisya dan Kamera yang Menyimpan Cerita di Ajang FLS3N Jepara 2026.
SUARASMANCA- Tetesan air hujan masih membasahi tanah tempat dimana bidadari kecil itu berpijak. Ia berhenti sejenak di bawah langit sore yang kelabu, bukan hanya sekedar melihat namun mengamati setiap momen kecil yang tercipta. Kamera kecil yang selalu tergenggam erat ditangannya perlahan ia arahkan untuk membidik momen-momen kecil yang berarti. Ia mulai belajar bahwa setiap hal yang tampak sederhana memiliki cerita dibaliknya.
Setiap kali melihat potret yang diabadikan, anak perempuan itu sering berhenti lebih lama untuk melihat gambar-gambar itu. Bukan hanya karena visual-nya yang tampak indah, melainkan makna dibalik gambar itu. Setiap potret memiliki ceritanya sendiri, sehingga ia selalu takjub akan cerita dibaliknya.
Kamera bukan hanya sekedar benda mati ataupun alat, melainkan teman perjalanannya dalam mengenal dunia, memahami manusia, dan menyimpan setiap cerita yang ia abadikan. Kegemarannya dalam memotret membuat ia sering memperhatikan karya para fotografer profesional. Ia selalu merasa tertantang untuk dapat menghasilkan karya seperti mereka.

Foto pengumumuman pemenang lomba FLS3N cabang fotografi, Meisya (sebelah kiri berpakaian batik sekolah). Foto: Lensa Smanca.
Dibalik perasaan itulah Meisyana Asyfa Azis (16) mulai menekuni dunia fotografi. Dalam setiap potret yang diabadikannya ia mulai belajar memahami cahaya, mencari sudut terbaik, menunggu momen yang tepat untuk membidik gambar hingga bagaimana sebuah foto dapat menyampaikan pesan yang tersembunyi. Semakin lama ia mulai belajar bahwa sebuah potret tidak hanya dilihat dari objek semata, tapi juga bagaimana kita mampu menyajikan emosi dalam setiap potret yang terabadikan.
Menurutnya memotret aktivitas manusia lebih menarik jika dibandingkan dengan sebuah benda. Karena dalam setiap gerakan manusia selalu memiliki cerita. Dengan itu kita mampu merasakan emosi dibalik gambar.
“Tangan yang sibuk bekerja, langkah kaki yang tak pernah berhenti berjalan, hingga tatapan mata seseorang selalu menyimpan makna yang seringkali tak disadari oleh orang lain,”ungkapnya.
Tantangan dalam memotret gambar semakin dirasakan oleh gadis yang kerap disapa Meisya ketika mendapatkan kesempatan mengikuti FLS3N cabang perlombaan fotografi. Pikirannya benar-benar diperas habis ketika ia harus mencari ide untuk objek utamanya dalam cabang fotografi. Ketika semua orang berfokus pada potret pengrajin yang sedang menenun, Tercetuslah ide untuk memotret proses dibalik terciptanya keindahan kain tenun.
Karena itulah Meisya dan Dewi Mariatul Qibtiyah (18) selaku pembimbing memilih mengangkat proses pembuatan pewarna alami dari tanaman indigofera yang diproduksi oleh Omah Petrok milik Ahmad Karomi menghasilkan warna biru dalam karya yang berjudul “Sentuhan Alam di Setiap Serat.”
Tema tersebut dipilih karena ia ingin menunjukkan pesan kepedulian terhadap lingkungan dan mengajak masyarakat luas untuk menjaga lingkungan. Lebih dari itu, tema ini diangkat untuk menyadarkan banyak orang diluar sana bahwa bahan kimia berdampak buruk bagi lingkungan. Serta tak hanya bahan kimia saja yang mampu menghasilkan warna-warna indah, namun dari bahan alami pun tak kalah memukau. Dibalik foto itu ia ingin menunjukkan bahwa alam dan manusia selalu memiliki ikatan yang tak dapat dipisahkan.
“Aku pengin nunjukin kalau pewarna alami bisa jadi alternatif yang lebih ramah lingkungan,”ungkapnya.
Proses dalam pengerjaan karya tersebut tidaklah mudah. Meisya harus membagi waktunya untuk persiapan lomba dan sekolah. Kurangnya istirahat membuat tubuhnya lelah, tetapi ia ingin mempersembahkan karya yang terbaik. Bahkan menjelang hari perlombaan, ia masih sibuk memperbaiki beberapa hasil foto yang kurang pencahayaan.
Hari perlombaan menjadi momentum yang paling menegangkan baginya. Tangannya gemetar, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Perlahan, perasaan gugup itu hilang ketika ia mulai berbicara tentang sesuatu yang benar-benar menjadi bagian dari hidupnya, yaitu fotografi dan cerita dibaliknya.
Bagian paling menegangkan dari semua itu adalah ketika menanti momen yang paling ditunggu, yaitu pengumuman sang pemenang. Suasana disekitarnya mendadak berubah hening, pandangannya kosong seolah tak percaya ketika namanya diumumkan sebagai sang pemenang, paling terbaik diantara yang terbaik. Baginya ini adalah sebuah mimpi besar yang tak akan pernah ia gapai, bahwa ia meraih juara 1 FLS3N cabang perlombaan fotografi.
Anak perempuan yang dulu sekedar memotret momen-momen sederhana kini mampu meraih kemenangan dari cerita yang berhasil ia abadikan lewat kamera. Bagi Meisya, kemenangan bukan sekedar piala, melainkan lebih berarti dari penghargaan itu sendiri. Bahwa sesuatu yang paling bermakna lahir dari hal-hal kecil yang sering kali tidak disadari.
Dalam setiap langkah yang Meisya tempuh, kamera selalu menjadi teman perjalanannya. Menemani setiap langkahnya dalam melihat bagaimana dunia bekerja. Setiap kehidupan masih berjalan, ia akan selalu mengabadikan setiap momen yang tercipta. Sebab baginya, memotret adalah cara menyimpan cerita agar tak lekang oleh waktu, dengan cara yang sunyi namun begitu bermakna.
Najwa Lintang Isnaya (Suarasmanca)
Tulisan Lainnya
Hasil Kerja Keras Qarina, Maknai dengan Piala Lomba FLS3N 2026 Cabang Solo Vocal
SUARASMANCA – Tampak seorang gadis dengan piyama birunya tengah menikmati album milik Bernadya di dalam kamarnya. Perasaannya mengikuti setiap lirik lagu yang keluar dari spe
